Sabtu, 08 September 2012

TRIO PENYAMAR III

BAB III

TRIO PENYAMAR 


PENCURIAN KEDUA!

Pete Crenshaw bangun pagi-pagi sekali dan memerangi kabut California yang tebal untuk memotong rumput di halaman tetangganya. Ia tidak terlalu suka akan tugas membuntuti Skinny Norris dan mobilnya berkeliling Rocky Beach dengan sepeda. Tapi Pete adalah yang paling atletis dari ketiga anak itu, jadi dialah yang selalu mendapat tugas seperti ini. Namun demikin pagi ini Pete beruntung. Mobil Skinny Norris tidak pernah meninggalkan rumah orang tuanya sepanjang pagi. Sekarang hari telah siang dan dari tempat persembunyiannya di atas pohon elm besar di seberang jalan, Pete, dengan teropong ayahnya, hanya melihat muka Skinny yang berbintik-bintik mengintip melalui tirai dengan gelisah dari waktu ke waktu. Pete merasa Skinny nampak cemas dan ia mengingatkan diri untuk melaporkan hal ini kepada Jupe. Ia memasukkan teropong ke dalam kotaknya dan turun dari pohon.

*****

Matahari tengah hari yang panas telah menghabisi sisa-sisa kabut pagi ketika Pete meluncur di atas sepedanya masuk ke Jones Salvage Yard. Hans dan Konrad, kedua pekerja pangkalan asal Bavaria, sedang membuka terpal penutup truk pangkalan dan melihat-lihat isinya.
"Hi, Konrad. Hi, Hans."
"Hi, Pete," kata Konrad.
"Kau mencari Jupe?" tanya Hans.
"Ia tak ada di sini?" tanya Pete heran. "Katanya ia harus bekerja seharian!"
"Ia tidak kelihatan sepanjang pagi, Pete. Bob ada di sini," jawab Konrad.
"Baiklah. Terima kasih ya."
"Sama-sama, Pete," balas kedua bersaudara itu dengan riang.
Pete menaiki sepedanya mengelilingi tumpukan barang bekas hingga ia tiba di bengkel Jupe. Sepeda Bob tersandar di mesing cetak tua yang telah diperbaiki oleh Jupiter. Pete menyandarkan sepedanya ke sepeda Bob dan merangkak di bawah mesin cetak. Ia menyingkirkan potongan terali yang seolah-olah tersandar begitu saja pada sebuah pipa tua berdiameter besar dan merangkak masuk. Ini adalah pintu masuk ke Lorong Dua. Pipa itu memanjang beberapa meter, sebagian berada di bawah tanah. Anak-anak itu telah meletakkan potongan karpet di bagian bawah di dalam pipa sehingga lutut mereka terlindungi. Pete tiba di pintu yang membuka ke atas, ke lantai markas, mengetuk dengan kode khusus, dan masuk.
Bob Andrews sedang sibuk bekerja di lemari arsip. Dengan sebatang pensil di sela-sela giginya it menggumamkan halo kepada Pete.
"Kau lihat Jupe?" tanya Pete.
"Tidak kelihatan sepanjang pagi," gumam Bob.
"Waduh, menurutmu ...." Pete terpotong oleh dering telepon. Kedua anak itu saling berpandangan selama beberapa saat. Telepon itu jarang berdering dan jika ia berdering, biasanya untuk sesuatu yang penting. Bob menjatuhkan pensil di mulutnya dan menjawab dengan suaranya yang paling profesional.
"Trio Detektif, dengan Bob Andrews."
"Data!" Ternyata Jupiter dan ia terdengar terburu-buru. "Pete ada?"
"Dia baru saja datang. Di mana kau?"
"Nyalakan pengeras suara!" perintah Jupiter.
Pengeras suara yang dimaksud adalah sebuah mikrofon dan speaker yang telah dihubungkan oleh Jupiter sehingga mereka bertiga dapat ikut serta dalam pembicaraan di telepon. Bob menyalakannya dan memegang gagang telepon di depan mikrofon.
"Silakan, Pertama," kata Bob.
"Keadaan darurat! Gampang Tiga! Kelana Gerbang Merah! Green's Hardware Store! Segera! Hati-hati!" Dan tiba-tiba Jupiter memutuskan hubungan. Bob dan Pete saling berpandangan seolah-olah terhipnotis oleh nada sambung di telinga mereka.
"Apa itu tadi?" tanya Pete.
"Aku tidak yakin tapi sebaiknya kita ikuti saja perintahnya!" seru Bob. "Ayo!"
Pete dan Bob berdesak-desakan keluar melalui Gampang Tiga. Gampang Tiga adalah sebuah pintu besar yang masih menempel pada bingkainya dan seolah-olah tersandar begitu saja pada suatu tumpukan barang rongsokan. Kalau dibuka dengan sebuah anak kunci berkarat yang tersembunyi, pintu itu membuka ke sebuah ketel raksasa, yang kemudian menuju ke markas.
Diam-diam mereka mengambil sepeda dan menuju Kelana Gerbang Merah. Bertahun-tahun yang lalu beberapa pelukis Rocky Beach telah melukisi pagar yang mengelilingi pangkalan barang bekas sebagai tanda terima kasih mereka kepada Titus Jones yang sering kali memberi mereka benda-benda yang mereka butuhkan secara cuma-cuma. Salah satu lukisan di bagian belakang menampilkan kebakaran besar yang terjadi di San Fransisco. Seekor anjing kecil, yang diberi nama Kelana oleh anak-anak, dengan sedih menatap rumahnya yang dimakan api. Jupiter merancang sebuah sistem sedemikian sehingga jika mata Kelana ditekan, tiga papan pagar akan membuka ke atas. Mereka biasanya menggunakan pintu masuk ini jika ingin ekstra hati-hati agar tidak terlihat oleh Bibi Mathilda.
Bob dan Pete membiarkan Kelana Gerbang Merah tertutup dan mengebut sepeda mereka melalui jalan setapak di rumput, menuju ke daerah perbelanjaan di tengah kota Rocky Beach.
"Mungkinkah kita diawasi?" tanya Bob dengan cemas di sela-sela nafasnya yang memburu.
"Mungkin saja," jawab Pete suram. "Kita harus tetap berjaga-jaga dan jangan sampai dibuntuti!"
Mereka selalu mengambil jalan-jalan kecil dan lorong-lorong, berulang kali melihat ke belakang ke arah mobil-mobil yang mereka curigai membuntuti mereka. Beberapa menit kemudian mereka tiba di Green's Hardware Store. Jupiter dan Chief Reynolds berdiri di depan toko. Jupiter sedang mondar-mandir, mencubiti bibir bawahnya, dan nampak berpikir keras sekali. Raut muka Chief Reynolds nampak suram.
"Hei, Jupe, ada apa ini?" tanya Pete, tersengal-sengal.
"Ada yang membobol toko peralatan ini?" tanya Bob, membenarkan letak kacamatanya di atas hidungnya yang berkeringat.
Jupiter tidak mengacuhkan pertanyaan itu dan balik menanyai Bob. "Data, apakah kau kemarin langsung pulang ke rumah dari pangkalan?"
"Tentu saja, Jupe. Ada apa?"
"Apakah sepedamu kau kunci pada malam hari, Robert?" tanya Chief Reynolds.
"Wah, tidak," jawab Bob, terheran-heran. "Sepeda selalu kuparkir di halaman rumah kami. Ada apa sih?"
"Masuklah, Anak-anak," kata Chief Reynolds dengan serius, mendahului masuk melalui pintu depan.
"Kau benar, Bob. Green's Hardware Store dimasuki pencuri semalam. Lihatlah sendiri. Tapi ingat, ini tempat kejadian perkara, jangan sentuh apa pun!" perintahnya.
Hal pertama yang mereka lihat adalah seutas tali plastik di tengah ruangan yang menjuntai dari sebuah jendela di langit-langit yang tinggi.
"Seperti kalian lihat, jendela itu sangat kecil," kata Jupiter sementara mereka menghampiri tali tersebut. "Hampir terlalu kecil untuk seorang lelaki dewasa ... tapi sangat pas untuk seorang anak."
"Kedengarannya tidak terlalu menyenangkan!" dengus Bob.
"Berikutnya," lanjut Jupiter, seolah-olah sedang memberikan kuliah di kelas, "di bagian bawah tali ini kita temukan bekas-bekas yang sepertinya berasal dari kapur berwarna biru."
"Oh, tidak!" keluh Bob.
"Dan sekarang, coba alihkan perhatian kalian ke kaca jendela di langit-langit ...," Jupiter menyuruh, menunjuk ke arah langit-langit.
"Sebuah tanda tanya!" seru Bob dan Pete serempak.
Hampir-hampir mereka tidak dapat mempercayai penglihatan mereka. Di kaca jendela, sepuluh meter di atas kepala mereka, tergambar sebuah tanda tanya besar berwarna hijau. Tanda khusus Trio Detektif!
"Jupe! Chief! Kalian harus percaya padaku!" kata Bob memelas, matanya terbelalak. "Aku tidur nyenyak sekali semalam! Di rumah! Di ranjangku! Dan seandainya aku ada di sana sekarang!"
Jupiter tidak menanggapi kata-kata Bob. "Bekas ban sepedamu terlihat di atas lumpur, menuju ke pintu belakang toko ini," ia memberi tahu anak bertubuh kecil itu. "Aku selalu mengenali bekas ban sepedamu yang bergaris-garis itu di mana pun!"

BAB IV
MENGINTAI

Kabut tebal menyelimuti kawasan Pasifik malam itu. Trio Detektif, terbungkus dari kepala hingga ujung kaki dengan mantel hitam, bersepeda memasuki pintu belakang Kepolisian Rocky Beach. Beberapa menit menjelang pukul delapan.
Jupiter menyandang sebuah ransel yang berisi 'peralatan penting untuk mengintai', demikian ia menyebutnya. Kini ia dan Bob bercakap-cakap penuh semangat tentang bermacam-macam teknik mengintai. Pete, yang sama sekali tidak suka segala sesuatu yang mengandung bahaya, membuntuti di belakang. Mereka mengetuk pintu dan dipersilakan masuk oleh Officer Haines, seorang polisi muda berwajah galak dan berambut merah.
"Anak-anak melakukan pengintaian!" dengusnya. "Mengapa kalian tidak kembali saja ke rumah pohon kalian dan membiarkan para profesional menangani ini?"
Jupiter memiliki bakat berakting yang memungkinkannya mengubah raut muka dan tingkah lakunya, sehingga nampak lebih tua daripada usia sebenarnya. Kini ia berdiri tegak dengan dagu terangkat tinggi.
"Diremehkan karena usia kami telah memungkinkan kami menyelesaikan banyak kasus membingungkan dan dianggap tak terpecahkan. Mata muda kami dapat melihat banyak hal yang terlewatkan oleh orang dewasa."
Officer Haines nampak seolah-olah ia baru saja menggigit sebuah jeruk yang sangat asam. "Mulut pintarmu itu suatu hari nanti akan memberimu masalah besar, Jones!" geram Haines, mencucukkan jarinya ke dada Jupe. "Kau tahu terlalu banyak demi kebaikanmu sendiri!"
"Cukup, Haines," Chief Reynolds berkata dari belakangnya.
"Bukan anak-anak yang baik," Haines bergumam sambil berjalan menjauh di koridor.
"Maaf tentang hal itu, Anak-anak," kata Chief. "Mereka sedang menghadapi stres dengan segala aktivitas kejahatan yang terjadi di Rocky Beach akhir-akhir ini. Kami banyak bekerja lembur dan mereka tidak suka anak-anak melakukan pekerjaan mereka. Jadi demi kebaikan kalian sendiri, jangan mencari masalah dengan mereka malam ini. Setuju?"
Ketiga anak itu mengangguk dengan muram.
"Apa yang dikatakan Skinny tentang pencurian-pencurian ini, Chief?" tanya Bob, mengeluarkan buku catatan dan pensil.
"Tidak banyak yang bisa ditulis, Bob. Skinny sudah tidak ada di kota ini!"
"Apa?!" seru Pete, memukulkan kepalan ke telapak tangannya. "Tunggu sampai dia berhadapan denganku!"
"Sebenarnya aku telah mencoret nama Skinny dari daftar tersangka," kata Jupiter sementara mereka berjalan menuruni tangga, menuju ke garasi polisi di bawah tanah. "Kejadiannya terlalu kompleks untuk anak seperti Skinny. Selain itu, ia takkan berani melakukan sesuatu sebesar ini."
"Sepertinya sekali lagi Jupiter benar," kata Chief setuju. "Entah bagaimana Skinny tahu tentang rencana si pencuri ... atau para pencuri ... tapi rasanya cukup sampai di situ keterlibatannya. Kita akan tahu begitu kita bisa menemukannya. Ibunya berkata ia menginap di tempat seorang sepupu di pesisir selama beberapa minggu.
Mereka berempat masuk ke dalam mobil Chief Reynolds, Jupe mengambil tempat duduk di depan. Chief akhirnya tidak dapat menahan rasa ingin tahunya melihat Jupe meletakkan ransel di antara kedua kakinya. Setelah sekian lama bekerja sama, Sam Reynolds telah terbiasa dengan kejutan-kejutan dari Jupiter Jones.
"Baiklah, sudah cukup berahasia, apa itu di dalam ransel, Jones?"
Jupe tersenyum. "Kumpulan intrumen dan peralatan yang boleh jadi akan terbukti sebagai faktor yang menguntungkan dalam tugas pengintaian kami."
"Maksudnya, barang-barang yang mungkin berguna nanti," kata Pete menyeringai.
"Cara yang agak rendah untuk menyatakannya tapi pada intinya benar, Dua," jawab Jupiter. Ia mulai membagi-bagikan isi ranselnya. "Walkie-talkie kita, bisa digunakan sampai sejauh empat blok. Senter, kapur, tiga set teropong, tiga botol soda jeruk, dan biskuit coklat Bibi Mathilda yang telah ternama di seluruh dunia! Kita tidak pernah tahu berapa lama pengintaian akan berlangsung!" senyum Jupe, mengambil suatu gigitan besar.
"Serahkan pada Jupe untuk berkemas!" Bob tertawa.
Chief menghela nafas, lalu berubah serius. "Sudahkah kalian bertiga mendapat izin dari orangtua masing-masing?"
Mereka mengangguk penuh semangat.
"Baiklah kalau demikian. Mari kita menangkap pencuri!"

*****

Sejam kemudian Trio Detektif telah berada di tempat pengintaian masing-masing, sesuai petunjuk Chief. Jupiter berjongkok di dalam bayang-bayang di pagar rumah seberang Pearl's Bakery bersama seorang polisi berbadan besar yang bernama McDaniels. Satu blok dari situ, Bob duduk di jok depan sebuah mobil polisi tak bertanda bersama Chief Reynolds. Kaca-kaca jendela mobil itu benar-benar gelap sehingga tidak mungkin melihat ke dalam tanpa menempelkan muka di kaca. Pete, yang paling cekatan, menggigil di atap Green's Hardware Store bersama Haines, yang nampak sangat kesal. Meskipun saat itu musim panas, di daerah pesisir malam dapat menjadi sangat dingin, terutama ketika berkabut. Dan kini, hampir pukul sembilan dan matahari tinggal sesaat lagi terbenam, Pete harus menaikkan kerahnya, menutupi telinga.
Penyelidik Kedua dengan waspada mengamat-amati jalan di depan toko peralatan itu. Ia merasa kabut telah menjadi jauh lebih tebal dalam sejam terakhir. Bahkan jalan raya, yang biasanya penuh dengan remaja pada Jumat malam, nampak lengang. Setiap beberapa saat ada mobil yang lewat, lampu depannya bercahaya bagaikan kunang-kunang pada waktu malam. Pete merasa sial sekali harus berpasangan dengan Haines namun memutuskan untuk mengurangi kebosanan dengan bercakap-cakap dengan polisi galak itu.
"Kabut semakin tebal. Anda pikir kita bisa melihat apa yang terjadi dari atas sini?"
"Diam, Anak Kecil," Haines meludah dengan kesal.
"Huh," gumam Pete. Ia kembali mengarahkan pandangan ke jalan yang berkabut dan memutuskan untuk mencoba walkie-talkie-nya. Walkie-talkie itu adalah salah satu hasil karya Jupiter sejak mereka memulai Trio Detektif. Terdiri dari alat penerima dan pengirim, walkie-talkie itu terhubung oleh kawat tembaga dengan ikat pinggang khusus yang mereka kenakan.
"Penyelidik Pertama, masuk," Pete berbisik. "Penyelidik Pertama, masuk. Ganti."
Sejenak terdengar bunyi sinyal statis dan kemudian suara Jupe, pelan namun jelas.
"Pertama di sini. Ada apa, Dua? Ganti."
"Biasa saja," kata Pete. "Hanya berusaha mencari teman mengobrol yang tidak benci anak-anak." Ia menjulurkan lehernya untuk melihat apa yang terjadi di jalan lagi. "Kabut sangat tebal di sini. Aku hampir tidak dapat melihat jalan! Apakah kau bisa melihat sesuatu di bawah sana? Ganti."
"Negatif," jawab Jupe. "Sepertinya ini adalah malam paling buruk untuk mengintai. Kabut ini seperti sup kacang saja. Tetaplah waspada," Penyelidik Pertama memberikan aba-aba.
"Dan jaga badanmu agar tetap hangat!" Suara Bob terdengar diiringi dengan tawa. "Ganti dan selesai."
"Lucu sekali, Data!" kata Pete sinis. "Akan kuganti dan kuselesaikan engkau!"
Pete menyimpan kembali walkie-talkie-nya dan berusaha menemukan tempat duduk yang paling nyaman, bersiap-siap menghadapi malam yang panjang.

*****

Waktu serasa berlalu kian lama kian lambat. Tubuh Pete terasa pegal dan pikirannya seolah-olah sama berkabutnya dengan malam itu. Satu-satunya yang terjadi selama pengintaian itu adalah kedatangan seorang anak buah Chief Reynolds dengan dua cangkir kopi untuk Pete dan Haines. Pete begitu senang akan adanya sesuatu yang hangat di dalam perutnya sehingga mulutnya terbakar karena menghabiskan isi cangkir itu sekaligus.
Pete bermimpi ia tersesat di dalam kabut di suatu pantai. Gemuruh ombak berderu-deru kencang sekali di telinganya. Sudut matanya menangkap sesosok bayang-bayang yang menyelinap di tengah-tengah kabut tidak jauh dari tempatnya, terdengar suara tapak kaki di pasir. Pete tergagap ketakutan dan mulai berlari di sepanjang pantai tanpa bisa melihat apa-apa. Tapi seolah-olah semakin cepat ia berlari, semakin dekat monster itu ... sampai akhirnya tepat di belakangnya! Pete terjatuh di pasir dan berteriak ....
Pete terbangun tiba-tiba ... teriakannya masih terasa di bibirnya. Ia menarik nafas panjang ketika menyadari bahwa semua itu hanya mimpi.
Mimpi! Itu artinya ia telah tertidur! Pete mengambil resiko dengan menyalakan senter untuk melihat jam tangan. Tengah malam! Pete panik ketika menyadari ia telah tertidur selama lebih dari tiga jam! Jupe pasti akan marah-marah mendengar ia tertidur saat sedang mengintai bersama polisi!
Hal terakhir yang diingat Pete adalah saat Jupe memerintahkan mereka untuk tidak bercakap-cakap dengan walkie-talkie, Penyelidik Pertama yakin sesuatu akan terjadi sebentar lagi. Kemudian seorang polisi datang membawakan secangkir kopi ... dan ia tidak ingat apa-apa lagi sampai kemudian bermimpi!
Pete merasa sekali itu otak Jupiter Jones yang begitu cerdas salah. Ia meregangkan kakinya yang panjang dan menguap. Sambil mengusap mata Pete memandang ke bagian lain dari atap, tempat Haines berada, bersiap-siap akan menerima pandangan marah polisi itu. Pete terkejut.
Haines telah menghilang!
Pete melompat berdiri dan buru-buru memijat sendi-sendinya yang kaku. Penyelidik Kedua bergegas menyeberangi atap, jantungnya berdegup kencang sekali.
"Officer Haines?" bisiknya. "Officer Haines, di manakah Anda?" Tidak ada jawaban. Pete berpikir keras. Mungkinkah Haines adalah pencuri yang mereka tunggu? Mungkinkah ia sengaja menunggu Pete tertidur lalu beraksi? Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia mendengar suara Haines. Pete membuat keputusan dan mengeluarkan walkie-talkie.
"Jupe! Jupe!" serunya. "Kau dengar? Jupe, masuk!"

*****

Ketika Pete menyadari bahwa ia sendirian di atas atap, Jupiter tiba-tiba menegakkan tubuhnya dalam kegelapan di tempat ia mengintai bersama McDaniels. Apakah ia mendengar sesuatu? Seperti bunyi logam beradu dengan logam. Ia menyentuh pundak McDaniels.
"Anda dengar itu?"
McDaniels mengangguk dan menaruh jari di bibir. Ia menunjuk ke arah pagar yang mereka sandari selama tiga jam terakhir.
Jupiter mematikan walkie-talkie-nya, suara yang tidak perlu, sekecil apapun, dapat membuat keberadaan mereka diketahui. Ia menjauh dari pagar sejauh yang ia berani. Bahkan dengan kabut tebal yang menutupi keberadaan mereka, ia tidak ingin posisi mereka ketahuan dengan keluar ke cahaya suram lampu jalan. Remaja gempal itu menahan nafas dan berusaha menangkap suara sekecil apapun. Ia menggenggam senternya erat-erat, berniat menggunakannya sebagai senjata bila perlu.
Ketika Jupe telah yakin bahwa mereka tidak benar-benar mendengar sesuatu, bunyi lembut itu kembali terdengar.
Rambut Jupiter berdiri tegak.
Officer McDaniels mencabut pistol kecilnya dan mengarahkannya ke suatu tempat di pagar.
"Apakah sebaiknya kubutakan ia dengan senter?" bisik Jupiter.
McDaniels menggeleng. "Kau akan ketahuan," bisiknya. "Berdiri di belakangku!"
Jupiter melakukan yang disuruh. "Ada apa di balik pagar?" bisiknya di telinga McDaniels. "Maksudku selain pencuri itu?"
"Tangga menuju ke apartemen. Kita ...," McDaniels tidak melanjutkan perkataannya ketika melihat pintu pagar mulai bergerak pelan. Jupe mendengar bunyi gerendel dibuka dan menatap dengan takut.
Pintu pagar perlahan membuka.
Sesosok gelap melangkah diam-diam.
"Berhenti!" bisik McDaniels tegas. "Jangan bergerak!"
"Santai! Ini hanya aku, Jensen!" Sosok gelap itu berbisik, mengangkat kedua tangan. "Chief Reynolds menyuruhku menggantikanmu!"
"Siapa?" McDaniels bertanya dengan curiga, pistolnya tetap terarah ke sang penyusup.
"Jensen! Aku polisi!" bisik si orang tak dikenal. "Aku salah satu polisi dari pesisir yang diminta Chief Reynolds membantu dalam pengintaian ini! Carlson sedang menggantikan Haines di atap!" bisiknya sambil menunjuk ke seberang jalan.
McDaniels menyimpan pistolnya dan mengangkat alis. Jupiter menyadari ia telah menahan nafas selama itu dan menghembuskannya dengan lega. Dengan cahaya dari lampu jalan ia kini dapat melihat sosok itu mengenakan seragam hitam polisi dengan lencana berkilauan terkena cahaya. Tempat itu terlalu gelap untuk dapat melihat muka Officer Jensen dengan jelas namun Jupe melihat lencananya dan suaranya terdengar tak asing.
"Sampai nanti, Kawan," McDaniels tersenyum. "Aku akan mengambil kopi. Jangan tertidur!" Setelah berkata demikian, polisi berbadan besar itu tanpa menimbulkan suara menyelinap melalui pintu pagar dan menaiki tangga. Jupiter mendengar gerendel terkunci. Ia berpaling ke arah sosok gelap Jensen.
"Sepertinya si pencuri takkan beraksi malam ini," kata Jupe, meraih ke dalam ranselnya. "Anda mau kue? Kue coklat legendaris buatan Bibi Mathilda-ku."
"Oh, sungguh menyenangkan," jawab Jensen, mengambil sepotong kue dan mengunyahnya. "Terima kasih, Nak. Rasanya seperti kue yang belum lama ini kumakan di San Fransisco," ujar Jensen. "Seorang lelaki berjualan dengan gerobak di Chinatown. Kue Chang, begitu namanya. Buatan Bibi Mathilda-mu jauh lebih enak, tentu saja," tambahnya cepat-cepat.
"Benar-benar memanjakan indera perasa," kata Jupiter setuju.
Jensen menatap ke arah kabut tebal. "Aku takkan heran jika Chief menyudahinya sekarang," katanya. "Terlalu berkabut. Aku akan menghubungi markas dan meminta mereka menelepon istriku. Aku bilang padanya aku takkan pulang hingga pagi hari nanti. Tidak ada gunanya membiarkan ia cemas semalaman." Jensen meraih walkie-talkie besar yang tergantung di ikat pinggangnya.
Jupiter mengunyah sepotong kue dan kembali mengamati jalan dengan teropongnya. Samar-samar terdengar bunyi klik yang diikuti dengan sinyal radio ketika Jensen menyalakan pesawatnya.
Tiba-tiba keheningan malam terpecah oleh deringan nyaring sebuah bel!
"Alarm keamanan!" seru Jupe.
"Kira-kira dari mana asalnya?" tanya Jensen.
Jupe menelusuri jalan yang tertutup kabut dengan teropongnya. Secercah cahaya merah menarik perhatiannya.
"Tempat permainan dingdong," seru Jupe mengatasi kebisingan alarm. "The Mineshaft!" Ia berlari menyeberangi jalan yang sepi. Jensen berada tepat di belakangnya.
"Tepat di sebelah Green's Hardware!" seru Jupe. "Mungkin Pete melihat sesuatu!"
Jupe, dengan potongannya yang gempal, segera saja terlewati oleh Jensen.
"Mari kita berputar ke belakang!" seru Jensen. "Mungkin kita bisa menangkap si pencuri saat ia berusaha kabur!" Jupiter menimbang-nimbang dengan cepat dan setuju. Mereka berlari di tengah kabut menuju belokan terdekat dan memasuki sebuah lorong, bayang-bayang mereka memanjang di depan mereka. Ketika mereka berbelok, tiba-tiba kaki mereka saling tersandung dan mereka berdua terjatuh ke trotoar yang keras. Jensen duduk lambat-lambat dan mengusap benjolan di kepalanya.
"Kau tak apa-apa, Nak?" tanyanya terguncang.
"Aku akan hidup," jawab Jupiter, memeriksa lututnya yang terkelupas. Dering alarm pencuri itu begitu kuat sehingga mereka harus berteriak-teriak meskipun mereka duduk berdekatan. "Hanya beberapa luka kecil ...," Jupe berhenti tiba-tiba dan menarik nafas. "Lihat!" serunya, menunjuk ke pintu belakang The Mineshaft. "Jendela kecil di dekat tempat sampah itu terbuka!"
Mereka berdua melompat bangkit dan berlari mendekati jendela itu.
"Silakan, Nak, akan kuangkat kau!" Jensen menawarkan, merunduk dengan telapak tangan dan lututnya di jalan. "Naiklah ke punggungku. Akan kususul kau nanti!"
Dengan sedikit bersusah payah, Jupiter mengempiskan perutnya dan memaksa tubuhnya masuk melalui ambang jendela yang sempit. Dengan hati-hati ia mendorong tubuhnya masuk, mengaturnya sedemikian rupa sehingga ia bisa turun dengan kaki dahulu. Jupe berpegangan pada ambang jendela beberapa saat, firasatnya berusaha memberi tahunya sesuatu. Ada perasaan tidak enak bahwa ada yang tidak beres dengan semuanya ini namun ia tidak dapat menemukan apa yang salah. Akhirnya ia melupakannya dan menjatuhkan diri ke lantai.
"Aku sudah di dalam!" serunya.
Tidak ada jawaban.
"Jensen?" Jupiter menunggu petugas polisi itu untuk memanjat masuk melalu jendela yang baru saja dilaluinya. "Jensen?" panggilnya lagi. Ia mulai merasa tidak enak ketika tiba-tiba sebuah tas kecil terlempar masuk melalui jendela, jatuh di lantai dengan bunyi dentingan logam.
Jupe pelan-pelan memungut tas yang berat itu dan memeriksanya. Di bagian luar terdapat tulisan dengan huruf-huruf besar: ROCKY BEACH FEDERAL BANK - TAS DEPOSIT. Perlahan-lahan dibukanya tas itu, lalu diangkatnya sehingga terkena cahaya remang-remang yang masuk melalui jendela, ada yang berkilauan di dalamnya.
Jupe terbelalak ketika akhirnya ia menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi ... dan apa yang sejak tadi berusaha diberitahukan oleh firasatnya.
Tas itu penuh berisi mata uang logam!
Remaja berwajah bulat itu dengan segera tahu bahwa jika ia memeriksa ke dalam toko, ia akan menemukan beberapa alat permainan telah dibobol ... dan koin-koin di dalamnya telah hilang.
Tiba-tiba saja, tanpa peringatan apapun, sebuah lampu yang terang menyorot ke matanya.
"Jangan bergerak, Nak!" suatu suara yang galak terdengar mengatasi dering alarm. "Kau ditangkap!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar