Selasa, 26 Juli 2016

Berkahnya sebuah Pernikahan

Pernikahan adalah hal yang mudah dan murah ( Sebenarnya ) akan tetapi mahalnya harga pernikahan Lantas menjadikan sebuah pernikahan momok yang menakutkan disebagian orang. Tingginya permintaan mahar dan mahalnya biaya resepsi demi sebuah gengsi serta permintaan yang ini dan itu dari pihak mempelai wanita.
padahal hakikat pernikahan adalah membangun keluarga yang sakinah mawaddah dan marahmah. Pernikahan adalah hal yang suci, jangan sampai niat yang suci demi membangun keluarga menjadi salah atau terhambat hanya karena gengsi.

Didalam agama Islam Allah telah mengatur sedemikian rupa tentang pernikahan yang termaktub dalam firmannya

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” [QS. Ar. Ruum (30):21].

“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.”  [QS. Adz Dzariyaat (51):49].

¨Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.¨[QS. Yaa Siin (36):36].

‘Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik.” [QS. An Nahl (16):72].

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendiri ( bujangan ) di antara kalian dan orang-orang shaleh diantara para hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka dalam keadaan miskin, Allah-lah yang akan menjadikan kaya dengan karunia-Nya [ QS. An-Nur (24): 32]

dalam hadistnya Rasulullah pun telah meriwayatkan 

“Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka,bukan golonganku” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.) 

“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa
yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya”
(HR. Bukhori-Muslim)  

“Wahai generasi muda! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud)  


Jika datang (melamar) kepadamu orang yang engkau senangi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan putrimu). Jika kamu tidak menerima (lamaran)-nya niscaya terjadi malapetaka di bumi dan kerusakan yang luas” ( H.R. At-Turmidzi)  

“Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka” (Al Hadits)  

Dalam hukum Pernikahan, Islam menetapkan  pemberian mahar (maskawin) dari suami kepada istrinya adalah wajib.Mahar adalah pemberian yang berupa harta  atau selain darinya dengan sebab pernikahan. walaupun agama tidak menentukan nilai mahar, jangan sampai permintaan mahar bertolak belakang dengan prinsip Agama Islam yang mempermudah pernikahan sebagai dasar pembentukan rumah tangga.


“Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya" ( HR. Ahmad )
“Di antara kebaikan wanita ialah memudahkan maharnya dan memudahkan rahimnya" ( HR. Ahmad )

Rasulullah SAW bersabda, "Perempuan yang paling besar mendatangkan berkah Allah untuk suaminya adalah yang paling ringan maharnya." (HR Ahmad, Hakim, dan Baihaqi).

memudahkan pernikahan berarti menutup pintu perzinahan karena pernikahan merupakan cara dari menghindari penyimpangan seksual di berbagai kalangan. Pernikahan adalah jalan satu satunya untuk menyatukan cinta. pernikahan adalah cara yang paling utama dibandingkan dengan pacaran seperti gaya anak jaman saat ini. mengatakan cinta lantas mengajak pacaran dengan dalil ingin menikahi padalah pacaran adalah sebagian dari zina.

Permintaan Mahar yang tinggi seringkali menjadi persoalan yang membuat niat suci menjadi terhalang, tingginya gengsi dikalangan masyarakat yang saat ini masih menjadi persoalan utama didalam menyatukan dua keluarga. berdasarkan adat istiadat dan kebiasaan kebiasaan yang kadang kala keduanya jauh dari nilai nilai ajaran Islam.

Dalam riwayat lain diungkapkan, "Sesungguhnya pernikahan yang paling berkah ialah yang sederhana belanjanya." (HR Ahmad).
Islam mengoreksi adat jahiliah bangsa Arab yang berlebihan dalam menetapkan mahar. Mahar yang tinggi seringkali menjadi penghalang bagi pernikahan. Akibatnya, banyak pernikahan yang tak dapat dilangsungkan karena ketidaksanggupan memenuhi tuntutan mahar yang tinggi dari pihak perempuan. Hal itu jelas menyalahi kehendak agama dan kemanusiaan.

Dr M Sayyid Ahmad Al-Musayyar, guru besar Universitas Al-Azhar, Kairo, menyatakan, "Kami menyeru kepada seluruh pemimpin, agar mempermudah pernikahan sehingga kehormatan para pemuda dan pemudi akan terjaga dengan baik. Dengan menikah, mereka akan terbebas dari perangkap setan. Mahar yang paling murah adalah mahar yang paling banyak berkahnya bagi seorang wanita."
Abu Dawud meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang memberi tepung gandum atau kurma sepenuh dua telapak tangannya untuk mahar seorang wanita, maka halal baginya untuk menggaulinya".
Pernikahan merupakan peristiwa yang patut disambut dengan rasa syukur dan gembira. Oleh karena itu, pernikahan dirayakan dengan perhelatan atau walimah. Imam Ahmad meriwayatkan ketika Ali bin Abi Thalib meminang Fathimah, putri Nabi SAW, Rasul berkata, "Perkawinan mesti dirayakan dengan walimah." 
Perayaan walimah bukanlah sebagai ajang pamer status sosial, harta, kemewahan dan berlebih-lebihan. Perayaan walimah haruslah tetap dalam koridor agama Islam. Menurut hadis Rasulullah SAW sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, seburuk-buruk pesta atau walimah adalah yang hanya mengundang orang-orang kaya, sedangkan orang-orang fakir dan miskin tidak diundang.
Pernikahan yang penuh keberkahan bukanlah dari mewahnya perayaan walimah, mahalnya mahar serta berlebih lebihan dalam menghabiskan uang demi gengsi. Islam telah mengatur segalanya dengan sempurna, jangan sampai hanya demi gengsi malah menyulitkan pernikahan yang suci yang sejatinya malah mengundang perbuatan zina dengan alasan berpacaran lebih dulu untuk mengumpulkan uang demi permintaan pihak wanita, atau berpacaran dengan alasan masih muda dan belum siap untuk menikah, atau berpacaran dengan alasan untuk lebih mengenal satu sama lain terlebih dahulu. Naudzubillah, alasan alasan tersebut sungguh dosa besar yang dosanya bukan hanya pelakunya saja tetapi orang tua yang membiarkan anak-anaknya berbuat seperti itu pun ikut berdosa.

Jika harta adalah alasannya maka sesungguhnya Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (me-nikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” [An-Nuur : 32]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menguatkan janji Allah ‘Azza wa Jalla tersebut melalui sabda beliau:
 “Ada tiga golongan manusia yang berhak mendapat pertolongan Allah: (1) mujahid fi sabilillah (orang yang berjihad di jalan Allah), (2) budak yang menebus dirinya supaya merdeka, dan (3) orang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya.” [9]

Islam telah menjadikan ikatan pernikahan yang sah berdasarkan Al-Qur-an dan As-Sunnah sebagai satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang sangat asasi, dan sarana untuk membina keluarga yang Islami. Penghargaan Islam terhadap ikatan pernikahan besar sekali, sampai-sampai ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama.
Shahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu berkata: “Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh imannya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi.’


Dikutip dari berbagai sumber

Kamis, 14 Juli 2016

SEBUAH JANJI

Titian bisa lapuk, janji bisa mungkir
Janji yang tidak ditepati oleh pembuat janji
(Peribahasa)

Sekitar tahun 1970-an, di kota kecil di Jawa Barat, seorang anak laki-laki berusia belasan tahun  berangan-angan memiliki mobil. Pada masa itu pemilik mobil hanyalah orang-orang berduit saja.
“Bapak, aku ingin punya mobil!” rengek anak itu kepada bapaknya yang sehari-hari bekerja sebagai petani.
Bapaknya sendiri menyadari kemiskinannya, rasanya tidak mungkin mampu membeli mobil. Makan saja susah. Akan tetapi, anaknya terus merengek.
Anehnya, saking sayangnya pada anak, bapaknya tidak tega menolak kemauan anaknya ini. Untuk menyenangkan hatinya, maka ia berkata kepada anaknya,“Ya Nak, Bapak belikan nanti, ya!”
Si anak laki-laki senang bukan main. Mimpinya tak lama lagi akan terwujud!  Setiap hari ia menunggu hadiah mobil kesayangannya.
Setiap ia ingat mobil, ia pasti segera menagih kepada Bapaknya,”Pak, mana mobilnya. Aku sudah tidak sabar untuk menyetir mobil keliling kota!”
Bapaknya kembali menyahut perlahan,”Iya Nak, pasti Bapak belikan!” Si anak kembali senang bukan main.
Bulan demi bulan lewat, tahun demi tahun berlalu, tetapi mobil tak kunjung terwujud juga. Kembali si anak menagih dengan menangis kepada Bapaknya,”Bapak, mana mobilnya! Bapak bohong! Pokoknya besok mobil harus ada!”
Si Bapak terdiam, ia tercenung, ada rasa menyesal memberi janji, tapi telanjur. “Ya Nak, tunggu saja besok, pasti mobil itu sudah ada di depan rumah kita!” Si anak berteriak senang,” Wow! Mobil, mobil!”
Beberapa hari kemudian manakala si anak keluar rumah, ia melihat kursi terbuat dari bambu, tetapi di matanya kursi itu laksana mobil! Lalu dinaikinya kursi itu sambil bergaya tengah menyetir mobil, putar kiri putar kanan, sambil berseru breeeemmm...breeeeeeemmm!!
Ketika bapaknya melihat hal ini, awalnya biasa saja, karena pikirnya anak itu masih kesengsem ingin punya mobil. Akan tetapi, lama-kelamaan tingkah lakunya semakin aneh. Kini anak laki-laki ini bergaya seperti membawa mobil ke tengah jalan, ke tengah pasar, ke mana saja ia mau.
Orang-orang yang melihatnya kaget, tercenung, kasihan. Ternyata anak ini sudah gila! Khayalan ingin punya mobil telah merusak pikirannya!
Kini masyarakat yang melihatnya seolah mendapat hiburan. Setiap anak ini bergaya membawa mobil di tengah keramaian, apalagi ke tengah pasar, maka orang-orang yang melihatnya berteriak seru: Maju! Maju!
Mendengar teriakan ini anak itu langsung maju setengah berlari. Kemudian terdengar teriakan lain: Atret! Atret! Mendengar teriakan ini, anak ini langsung berlaga mundur. Sejak itu anak yang telah menjadi gila tersebut dipanggil Atret!
Cerita di atas merupakan kisah nyata yang saya lihat sendiri ketika saya masih SD.  Sangat menyedihkan. Bisa-bisanya orangtua berjanji tanpa melihat kenyataan hidup. Tidak menyadari siapa dirinya.
Menyayangi anak tidaklah salah, tetapi mengucapkan janji palsu pada anak sendiri, bisa jadi berdosa. Pepatah mengatakan, janji adalah utang. Berjanjilah sesuai dengan kemampuan, baik dari sisi biaya, waktu, dan kondisi yang ada.
Alangkah baik bila berterus-terang, apa adanya, sebab anak tahunya menerima saja. Anak hanya mengingat janji yang ditepati, sebab anak sangat percaya pada orangtuanya.
Tanpa disadari, mengabaikan janji berpengaruh buruk pada sisi kejiwaan anak. Jadilah orangtua yang bijak,  baik dalam berbicara maupun bertindak.
Selain itu, orangtua harus belajar memahami dan menyelami jiwa anak. Bisa jadi anak itu bermula dari stres berkepanjangan, berlanjut depresi, akhirnya gila.
Perubahan-perubahan ini lolos perhatian orangtua ini. Bisa jadi karena ketidaktahuan sebagai orang desa mengenai perkembangan jiwa anak. Mungkin juga dibiarkan saja dengan perkiraan ”tidak apa-apa”.
Dalam psikologi populer disebutkan 10 karakter manusia yang berpengaruh pada orang lain. Kesepuluh tipe tersebut, yaitu tipe Split Mirror, tipe Mirage, tipe Fire Tongue, tipe Stork Bird, tipe Soybean, tipe Empty Vat, tipe Long Nose, tipe Faucet, tipe Rumpled Yarn, tipe Gecko.
Tipe-tipe tersebut memiliki ciri khas tersendiri. Akan tetapi, di sini tidak akan dijelaskan satu persatu, tetapi yang paling pas bila dikaitkan dengan makna kata “janji" yaitu tipe Soybean.
Orang dengan tipe Soybean mudah memberi janji, meluncur begitu saja dari mulutnya. Anehnya, tipe orang seperti ini mudah pula ingkar janji. Ada saja alasan yang keluar untuk mengingkarinya.
Luarbiasanya, bila ia ingkar janji, sikapnya biasa-biasa saja. Tidak merasa  bersalah. Tipe seperti ini sulit dipercaya dalam segala hal. Lidah memang tidak bertulang. Janji menyangkut nama baik, menyangkut kepercayaan. Mencederai janji, mencederai kepercayaan.
Berkaitan dengan janji, berikut ada kisah nyata yang bisa menjadi teladan buat kita semua.
Ada seorang ayah yang selalu berkata kepada anaknya sebelum berangkat ke sekolah: Anakku, apa pun yang terjadi, Papa akan selalu bersamamu!
Suatu ketika terjadi gempa tahun 1988 berkekuatan 6,9 skala Richer yang memporakporandakan negara Armenia (bagian dari Uni Soviet waktu itu). Gempa luarbiasa ini mengakibatkan 45.000 warga Armenia meninggal. Saking dahsyatnya, Uni Soviet menetapkan Hari Berkabung Nasional.
Gempa dahsyat ini pun ikut meruntuhkan gedung sekolah tempat anaknya belajar. Sang Ayah segera berlari ke sekolah anaknya tersebut.
Dilihatnyalah seluruh bangunan sekolah sudah runtuh dan menimpa seluruh murid yang berada di bawahnya. Harapan hidup sudah tipis. Semua orang yang melihatnya pun sudah putus asa. Pasrah.
Melihat tragedi ini Sang Ayah menangis histeris. Ia tidak menyangka musibah menimpa anaknya. Dalam keputusasaan tiba-tiba ia teringat, setiap berangkat sekolah ia selalu berkata kepada anaknya: Anakku, apa pun yang terjadi, Papa akan selalu bersamamu!
Tiba-tiba semangatnya tumbuh kembali, rasa putus asa ia singkirkan. Sang Ayah segera berlari menghampiri reruntuhan bangunan kelas anaknya belajar. Dengan tangannya ia mengangkat reruntuhan batu-batu dan puing-puing satu persatu.
Orang-orang yang ada di situ sudah mengingatkan pecuma saja usahanya ini. Akan tetapi, Sang Ayah tidak menghiraukan imbauan orang-orang di sekitarnya. Sang Ayah selalu teringat janjinya kepada anaknya: akan menyertai dalam situasi apa pun.
Satu jam, dua jam, terus berlalu hingga akhirnya sampai 18 jam Sang Ayah masih mengangkat puing-puing bangunan itu!
Lalu tiba-tiba Sang Ayah mendengar lamat-lamat suatu suara anak kecil di bawah reruntuhan itu. Suara yang sangat dikenalnya! Kemudian ia berteriak: Armando!!! Tiba-tiba terdengar suara lemah di bawah reruntuhan: Papaaaa!!
Mendengar suara anaknya ini Sang Ayah semakin bersemangat mengangkat puing-puing untuk menyelamatkan anaknya. Terbukti anaknya masih hidup! Bahkan di dalamnya ditemukan lagi 14 anak yang juga masih hidup!
Sang Ayah dan anak saling berpelukan histeris. Sang Ayah sambil menangis kembali berkata: Anakku, apa pun yang terjadi, Papa akan selalu bersamamu!
Sebaliknya, Armando  berkata lagi kepada teman-temannya yang msih hidup: Benar ‘kan, Papaku pasti datang untuk menyelamatkan kita!
Cerita nyata yang sangat mengharukan. Kita dapat memetik kisah gigihnya seorang ayah memenuhi janjinya. Ia merasa bertanggung jawab dengan janji yang diucapkannya dan tertantang untuk membuktikannya.
Kita merindukan sosok ayah sebagai pelindung, penjaga, dan sumber pengharapan di kala susah. Kita merindukan sosok ayah yang konsisten, lembut, tidak bersikap kasar, disegani, dan dipercaya. Seorang ayah yang berani mengambil risiko apa pun demi menjaga anaknya.
Kepada siapa lagi seorang anak berkeluh-kesah selain kepada orangtuanya sendiri?
Seorang ayah memang sangat disarankan menjadi teladan bagi anak-anaknya sendiri. Tidak ada yang lebih berbahagia bagi seorang ayah ketika dikagumi oleh anaknya sendiri, baik dalam sikap maupun perbuatan.
Sebaliknya, tidak ada yang lebih berbahagia bagi seorang anak ketika orangtuanya berkata kepada anaknya: Ayah bangga punya anak sepertimu, Nak!”

JUST SHARE : http://edukasi.kompas.com/read/2016/06/29/12305241/janji

Minggu, 21 Februari 2016

Aku hanyalah seorang Peniru

Aku hanya berusaha
Berusaha menjadi Fatimah R.A istri Ali yang menerima semuanya dijadikan cukup tanpa mengeluh kepada Ali
Berusaha menjadi Aisyah R.A yang dengan kecerdikannya dapat membantu Rasulullah dalam situasi apapun.
Berusaha menjadi khadijah R.A seorang istri yang bisa menjadi sosok teman, sahabat dan ibu yang mengabdikan seluruh harta dan hidupnya kepada Rasulullah.
Tapi apa daya,,,

Aku hanya peniru
peniru yang jauh dari kata sempurna
peniru yang memiliki banyak cacat

aku masih suka mengeluh dalam banyak hal
aku yang tak bisa menjadi tempat ceritamu dikala kamu susah
aku yang belum sepenuhnya bisa menjadi sosok teman dan sahabat yang bisa membuatmu senang
aku yang belum bisa menjadi sosok seorang ibu  yang bisa membuatmu tenang
aku yang bahkan belum bisa menjadi sosok seorang istri yang mengabdikan seluruh hidupnya kepada suaminya


dibalik keluhanku, aku hanya ingin didengarkan
dibalik amarahku, aku hanya ingin dirangkul dan direngkuh
dibalik tangisanku, aku hanya butuh kamu disisiku sebagai penenangku

tak perlu kau keraskan suaramu, karena hatiku bisa takut
tak perlu kau diamkan aku, karena hatiku merasa ditinggalkan
tak perlu kau buat aku merasa bersalah dengan sindiranmu, karena hatiku bisa terluka

cukup rangkul dengan kasih sayang mu,,

agar aku bisa merasakan, rasa kasih sayangmu.
akupun dapat menyadari  kesalahanku karena menyakitimu dengan semua sikap manjaku..




21 februari 2016